Pagaralam, Sumselupdate.com – Sahabat data lebih dari 25% produksi kopi Indonesia bersumber dari Sumatera Selatan (Sumsel), akan tetapi kenapa kopi asal Bumi Sriwijaya tidak begitu dikenal dan populer?
Kopi merupakan minuman terpopuler di planet bumi karena kopi tidak mengenal usia, bahasa, ras bahkan agama secara etimologis.
Kopi berasal dari bahasa Arab yaitu KAHWA yang kemudian populer dengan berbagai kata serapan seperti Coffee dalam bahasa Inggris, Kahfe dalam bahasa Turki bahkan Kawe dalam bahasa lokal Sumatera Selatan.
Tahukah sahabat data berdasarkan data Internasional Coffee Organization (ICO) konsumsi kopi dunia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, demikian juga halnya dengan produksi kopi dunia.
Indonesia berada dalam posisi kelima sebagai negara dengan konsumsi kopi tertinggi, Indonesia juga merupakan negara produsen kopi terbesar keempat di dunia.
Tahukah sahabat data lebih dari 25% produksi kopi Indonesia bersumber dari provinsi Sumsel. Perkebunan kopi Sumsel dibudidayakan di sepanjang dataran tinggi Bukit Barisan adalah yang tertinggi di Indonesia.
Sejalan dengan itu produksi kopi Sumsel juga merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Ironisnya kopi Sumsel tidak begitu dikenal layaknya kopi aceh, kopi Mandailing, kopi Toraja bahkan kopi Lampung.
Di sisi lain, meskipun menjadi komoditas unggulan, kopi belum mampu meningkatkan kesejahteraan para petani serta menyumbang devisa bagi Sumsel itu sendiri.
Jika dilihat dari data ekspor ternyata ekspor kopi yang keluar melalui Pelabuhan Sumsel hanya di bawah satu persen saja, lalu ke manakah perginya kopi Sumsel.
Bagaimana sebenarnya gambaran persoalan kopi di Sumsel dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Sumsel yang belum lama ini seperti di lansir chanel youtube BPS Sumatera Selatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
Tim sapa petani merangkum beberapa catatan penting terkait persoalan kopi di Sumsel. Persoalan kopi di Sumsel adalah persoalan cultural dari hulu hingga Hilir. Kopi yang dibudidayakan di Sumsel adalah jenis Robusta.
Menurut Petani Kopi, Pepen Saputra, kalau kita bicara kopi di dunia itu yang terkenal ada empat yaitu Arabika, Robusta, Likulika, dan Esensa. Yang dikenal di OKU Selatan kebanyakan itu adalah robusta.
Kepala Dinas Pertanian OKUS Syahtoni mengatakan, cara pemeliharaan kopi Robusta dengan segala macamnya, mungkin lebih lebih simpel dan lebih mudah.
Di Sumsel Tata Niaga kopi belum didukung oleh rantai distribusi yang jelas serta terbatasnya akses dan infrastruktur pelabuhan dan sentra industri kopi olahan.
Oleh sebab itu sebagian besar kopi Sumsel dibawa ke sentra-sentra industri kopi di Lampung.
Di Lampung sistem tata Niaga kopi sudah lebih terstruktur dan terkoneksi, persoalan lainnya adalah produktivitas kopi secara umum masih sangat rendah jika dibandingkan provinsi lain.
Iklim pengelolaan kopi serta rantai distribusi yang belum jelas mendorong petani hanya berpikir praktis mereka hanya memanen dan menjual langsung kepada para pengepul.
Banyak tahapan panen dan pasca panen yang dilewatkan, bagi mereka para petani kualitas bukan yang utama, toh kopi langsung dijual dan menghasilkan uang.
Padahal jika pengelolaan panen dan pasca panen dilakukan secara intensif dan serius kualitas kopi yang dihasilkan akan meningkat dan tentu saja harga jualnya lebih tinggi.
Hal tersebut tentu mampu mendongkrak kesejahteraan petani mengingat kopi hanya dipanen setahun. Seperti halnya di Sipatuhu sebuah desa di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan, kultur dan pengelolaan kopi sudah jauh lebih baik kualitas dan harga kopi menjadi rujukan bagi daerah-daerah di sekitarnya.
Menurut petani, kopi yang ada di Sipatuhu itu pasti harganya agak selisih lebih, karena di Sipatuhu rata-rata hampir mayoritas itu sudah ada binaan d
Menurut petani, kopi yang ada di Sipatuhu itu pasti harganya agak selisih lebih, karena di Sipatuhu rata-rata hampir mayoritas itu sudah ada binaan dari PT-PT yang sudah ada pembeli itu dari apa Lampung dengan dibantu informasi terkait seputar kopi.
Jadi mereka memberikan informasi kebinaan petani bahwasanya kopi yang bagus itu seperti ini nanti ada harganya.
Sahabat data pengelolaan dan penanganan kopi di Sumatera Selatan menjadi tantangan bersama, Namun demikian potensi kopi di Sumsel ke depan harus terus dimaksimalkan khususnya oleh generasi muda yang mereka dan kreatif demikian lebih akurat. (**)





